Pada hari Kamis lalu, tepatnya tanggal 31 Agustus 2017, kelompok CAS (Creativity, Action & Service) kelas 11 Al Jabr Islamic School kami melakukan kegiatan memanen kangkung dan sawi di perkebunan sekolah. Untuk pemanenan pertama kami ini, kami tidak membawa banyak perlengkapan. Sepatu boot menjadi satu-satunya perlengkapan yang kami bawa menuju lokasi pemanenan.
Sesampainya di lokasi, hal pertama yang dilakukan adalah pemberian pengarahan oleh staf dan tim agrikultur Al-Jabr Islamic School. Pak Udin, selaku ketua dari tim agrikultur Al-Jabr memberi peringatan bahwa dalam memanen tanaman, kami harus berhati-hati agar tidak merusak tanaman kaya akan manfaat tersebut. Caranya adalah dengan menarik tanaman dari pangkal bawah, dan tidak menarik dengan terlalu kuat -khususnya untuk tanaman sawi agar tidak terlalu menekan bagian daun dan batangnya.
Waktu memanen telah tiba. Setelah 25 hari menanti, menyiram dan memberi pupuk, sayur-mayur nan cantik ini telah siap dipanen. Dengan berhati-hati, kami mulai untuk mencabut tanaman-tanaman itu satu persatu. Dimulai dengan tanaman sawi, kami belajar secara perlahan cara yang paling benar dan efektif untuk mencabut tanaman-tanaman tersebut. Meskipun pada awalnya beberapa tanaman gagal kami panen dengan benar, lama-kelamaan kebiasaan tersebut hilang, dan tanaman terpanen dengan maksimal.



Tumpukan sawi telah kami dapatkan, setelah 45 menit berusaha. Langkah selanjutnya: Mencuci. Semua tanaman masih dalam keadaan kotor, sehingga mencuci tanaman adalah langkah krusial berikutnya. Tak seperti yang kami pikirkan, ternyata dalam mencuci tanaman kehati-hatian sangat diperlukan. Apabila seseorang mencuci dengan asal-asalan, kemungkinan merusak tanaman akan semakin besar. Kami harus pastikan bahwa tidak ada bagian yang tergerus dalam proses mencuci, untuk medapatkan hasil panen yang maksimal.
Panen sudah, cuci sudah, tinggal satu hal yang harus kita lakukan sebelum menjual hasil panen ini, yaitu mengikat dengan ukuran satu genggaman tangan. Satu ikat sawi dijual dengan harga Rp. 10.000. Kita tidak boleh meremehkan tahap ini, karena 2 ukuran berbeda dengan harga yang sama sangatlah tidak ideal. Pada awalnya, kami gagal mengira-ngira ukuran satu ikat sawi, sehingga membutuhkan bantuan staf agrikultur Al-Jabr. Lama-kelamaan, kami terbiasa mengikat dengan ukuran ideal dan hasil menjadi lebih baik.
Pengalaman ini sangatlah hebat. Selaku warga Jakarta, kami merasa sangat beruntung untuk mendapatkan kesempatan ini mengingat lahan pertanian di ibukota sangatlah terbatas. Selain mengasyikkan, pengalaman ini juga menambah ilmu kami tentang agrikultur. Kami berharap ilmu yang kami dapat dari pengalaman ini bisa diterapkan pada kegiatan-kegiatan di masa yang akan datang.
Ditulis oleh: Oryza, Rahannisa, Kennes
Dikerjakan oleh: Oryza, Rahannisa, Aryo, Nauval W
Tanggal:8 September 2017
